Friday, March 4, 2016

Lesson learnt in life: Self-Improvement! – Part I

Assalamualaikum dan selamat malam, good people! Mau ngingetin, sekarang udah masuk bulan Maret 2016. So, what have you done in these 2 months of 2016?  Bagaimana kabar rutinitasnya hingga hari ini? Sedang menikmatinya, atau sedang berada dalam fase jenuh? Aku punya ide, bagaimana kalau kita sambut bulan Maret ini untuk perbaikan diri?

 Welcoming March for the beginning of self-improvement!

Ada saatnya kita harus break sejenak dari segala rutinitas untuk berkontemplasi dan mengevaluasi atas segala yang baru saja terjadi pada hidup kita. Let’s say, aku baru saja mengalami suatu kejadian yang sempat membuatku berhenti sejenak dari perjalanan yang telah aku tempuh - lalu berpikir - dan akhirnya kembali berjalan dengan langkah yang lebih ringan. Kekecewaan, kesedihan, keputus-asaan, dan sebagainya, itu hal biasa yang terjadi pada hidup. That’s okay. Nothing’s wrong with you. Everybody has their turning point of life. Akan datang satu momen dimana hal itu akan membuatmu berpikir - bahkan mungkin akan mengubah sedikit pola pikir kamu – dan berakhir pada suatu keputusan yang tanpa sadar telah membuatmu menjadi lebih dewasa. Yes, that moment made you grow, if you learnt from it. Anyway, how about if I substitute the word “grow” to “self-improvements”? I like both words actually, but I think “self-improvement” seems more interesting to be explored.

Self-Improvement Project



Jadi, menurut kamus Silmi, self-improvement project ini adalah suatu proses perbaikan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini bisa mencakup perbaikan diri terhadap Tuhannya (hati), diri terhadap diri (pengembangan potensi), dan diri terhadap orang lain (lingkungan). Menurutku, untuk memulai proyek self-improvement ini harus didasari pada niat yang baik. Dan, semua orang-pun tau: niat itu berasal dari hati. :)

It was all started from your heart




Ya, semuanya dimulai dari hati. Let your pure heart sees and speaks. Biarlah hati yang melihat seluruh kejadian yang menimpa diri kamu, biarkan dia berbicara untuk menuntunmu. Know your heart, then you will know your God. Allah menciptakan hati manusia agar kamu dapat kembali mengingatNya. Karena Allah Maha Penyayang, Allah tidak pernah melupakan hambaNya.


Your problems might be a sign for you to return to God. Take a contemplation, make istighfar, read Qur’an, pray tahajjud at night, and cry towards Him. Kualitas ibadah yang baik akan menuntun hatimu menuju ketenangan batin. Trust me, it works. Hati yang jernih akan mengajarkanmu untuk:

1.       Mengambil hikmah dari tiap kejadian
Yap, selalu ada pelajaran yang bisa diambil dari tiap kejadian. Dan proses pembelajaran itu yang akan selalu meng-upgrade dirimu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bersyukurlah buat kamu yang masih dibukakan pintu hatinya untuk dapat selalu melihat hikmah dari tiap kejadian. Ingat, tidak ada sehelai daun-pun yang jatuh melainkan atas izin Allah. You’re the chosen one who can see values in everything.

2.       Berharap tidak pada manusia, tapi hanya pada Allah
I once told you, jangan pernah berharap pada manusia, just don’t. Ketika kamu melakukannya, akan datang masa dimana kamu akan dikecewakan oleh manusia.



3.       Tidak berpikir dan khawatir berlebihan, serahkan semuanya hanya pada Allah
Yes, Allah is the best scenario writer! Why worry? Everything has set up to His plan, yes. Allah’s plan. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha yang terbaik dan serahkan semuanya pada Allah. Janji Allah itu pasti ! And you will end up feeling soo relieved just by trusting in Allah!



4.       Jujur pada diri sendiri
Bersikap apa adanya, berkata apa adanya. Don’t make fake things. Smile wider. Cry louder. It’s better than being angry, because it cleanses your heart and purify it.



5.       Tetap bersabar
What is Sabr? Sabr is striving; not complaining; constantly controlling self in words and action; is tiring, and worth it in the end. Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya yang senantiasa bersabar.



Actually, those are Five Lessons Learnt from Life versi Silmi. Semuanya diambil dari setiap kejadian yang hadir dalam hidup Silmi, disaat itu pula-lah Silmi berusaha untuk menata diri dengan hati. Cause a pure heart will see everything. Ketika kamu sudah bisa menata hati dengan baik, memperbaiki hubunganmu dengan Allah, you already got the point on the ability to create your own happiness. Ya, kemampuan diri kamu bertambah. One big value rewarded for you. You begin improving! Yuk sama-sama kita coba amalkan!  Silmi juga masih mencoba belajar ko sampe sekarang. Hehehe.

Tulisannya masih bersambung ya, ini masih part I. Nanti sambungannya (part II) insya Allah bakal ngebahas tentang self-improvement bagian pengembangan potensi diri dan perbaikan diri terhadap orang lain. Semoga bisa bermanfaat yaaaa.

Ohya, random thoughts nih. Seketika aku sempet berpikir, kalo nanti aku punya anak, kayaknya aku bakal mencoba ngedidik dia bagaimana caranya untuk melihat hidup dengan iman, dengan hati. Bagaimana caranya untuk membentuk kebahagiaan diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain, dan bagaimana untuk menjadi seorang wanita / pria yang tangguh dan tahan banting: adversity quotient. How to make a determination, to choose between right or wrong, knowing what the risks is for

By the way, ini sebenernya ga nyambung dari konteks. Tapi gapapa ya mumpung lagi inget, ya biar nanti pas udah punya anak, masih bisa buka blog ini sebagai reminder. Kalo dicatet, yang namanya dokumen fisik pasti bisa aja hilang. Haha. Satu pelajaran buat seorang wanita: ketika dia sedang belajar memaknai hidup, belajar pula-lah untuk menjadi pengajar. Ya, pengajar untuk anak-anaknya kelak.