Thursday, February 18, 2016

Balanced that way


Hai good people! *sapaan ter-sokasik 2016*
Kali ini aku akan sedikit berbagi pandangan mengenai satu hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri bagi aku sendiri (dan kebanyakan lainnya yang masih berstatus single seperti aku pastinyaa!), yaitu: JODOH. Ha! Udahlah, gausa mesem gitu. Kalo kamu adalah pemuda pemudi berusia 24 tahun (dan sekitarnya) yang budiman seperti aku, you have to join this conversation with me! Kita udah dewasa nih guys, udah saatnya mikir ke depan. Undangan udah bertebaran dimana-mana. Update-an medsos udah penuh sama acara-acara wedding nan soswit-unyu-menggemaskan itu. Ya ga? Who does agree that this age is about the age of marriage? Entahlah. Setiap orang selalu punya pendapatnya masing-masing. But I think, emang udah saatnya kita mikirin dan nyiapin hal itu. Someday you will, I’m serious! Don’t let your routinity blinds you from this fact.

Oke, sekarang posisinya adalah: kamu sudah bisa menerima fakta tersebut. Dan anggap saja sekarang kamu sedang berada di fase “usaha”, dimana saat ini kamu sedang ‘bertemu’ dengan seseorang.

Pernah denger ga kalo “lelaki yang baik akan bertemu dengan perempuan yang baik”? (cek QS An Nur:26). That’s why, melihat KESEIMBANGAN dalam suatu hubungan dengan orang lain itu perlu. Kamu yang ngejalanin, kamu sendiri yang bisa ngerasain: kamu seimbang apa engga sama dia. Mulai dari latar belakang keluarga (1), bagaimana keadaan lingkungan yang mendidik dia (2), pola pikir yang dia punya (3), hingga prinsip-prinsip agama yang dia pegang (4). Umm, entah kenapa pembahasan ini terdengar cukup berat ya, tapi ya memang berat si. Haha. *kalo ga berat ga akan tertarik untuk ditulis :p

Masih belum kebayang? Oke. Misalnya, kamu lagi deket sama seseorang. Kamu berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ya biasa-biasa aja, semuanya Alhamdulillah serba cukup. Nah, dia (orang yang lagi deket sama kamu ini) ternyata juga berasal dari keluarga dengan status sosial yang sama dengan kamu. Intinya, kalian berdua sama-sama ga minder, alias ga ada kesenjangan sosial diantara kalian. Komunikasi kalian-pun ga akan terganggu dengan hal itu.

Mengenai keadaan lingkungan yang mendidik dia, aku pikir ini tentang kebiasaan yang telah terbentuk dari kecil, bisa berupa nilai-nilai social yang ia dapat dari didikan orangtuanya seperti etika, norma, adat istiadat, dsb. Hal ini jelas mempengaruhi perilaku dia terhadapmu. Kalo dia tidak punya etika yang baik, otomatis kamu juga akan risih dong dengan perilaku dia yang seperti itu.

Poin ketiga, ini tentang keseimbangan pola pikir: matang atau tidak. Lalu, sejalan atau tidak. Pola pikir yang terbentuk pada diri seseorang akan merefleksikan sikap dalam menghadapi persoalan hidup. Pola pikir yang matang akan membangun visi misi hidup yang baik. Nah, yang sering jadi permasalahan adalah: apakah visi misi hidup kalian sejalan? Target kamu, kamu ingin menikah satu atau dua tahun lagi, tapi ternyata dia punya keinginan untuk menikah setelah karir dia sukses (misalnya, masih dua atau tiga tahun lagi). Well, it doesn’t click
Pola pikir juga akan menentukan proses apa yang sebaiknya kamu jalani. Misalnya, ketika kamu berpikir bahwa menikah itu tidak melulu harus melewati fase pedekate berbulan-bulan (atau mungkin bertahun-tahun?) - kemudian saling mencintai - lalu berpacaran - dan menikah, it's totally fine! Fase itu bisa diubah jadi: kalian sama-sama nyaman dan cocok - saling percaya - lalu menikah - and falling in love after married. I don't know, but this process just sounds more simple to me. Ada baiknya, pola pikir mengenai proses apa yang akan dijalani ini harus sejalan.
Nah, disaat kalian saling bertukar pikiran dan cerita mengenai hal diatas, akan muncul perasaan klop atau engga. BUT, hal ini sebenernya ga mutlak lho. Kata orang, dalam suatu hubungan, akan selalu ada perjuangan dan pengorbanan. Entah kamu yang mengorbankan targetmu, atau dia. Entah dia yang akan mengubah prosesnya dan mengikuti prosesmu, atau sebaliknya. Yang penting kalian sama-sama sudah bisa berpikir matang. I suggest you both discuss it, a heart-to-heart conversation, with your egos in a lowest level. Win-win solution. Ini kalau kalian berdua sudah sama-sama yakin.
  
Nah, yang terakhir ini mengenai prinsip agama yang ia pegang. I can say that, this is the most important thing. Well, sebenernya kita gabisa menilai kualitas iman seseorang, karna Cuma Allah yang bisa menilai. But at least, kita bisa sedikit menebak dari kebiasaan dia. Karena orientasi kamu udah ke arah “mencari pasangan hidup yang bisa membawamu kea rah baik di mata Allah”, otomatis kamu nyari orang yang pemahamannya ga asal-asalan dong. But, lagi-lagi, ini ga mutlak ya. Ini tentang ada ato engganya niatan di antara kalian berdua untuk sama-sama jadi lebih baik. Apakah kalian sama-sama sedang memperbaiki ibadah, apakah kalian sama-sama mulai rajin meng-upgrade ilmu agama seperti mendatangi kajian-kajian rutin, atau apakah kalian sama-sama rajin mendoakan satu sama lain di sepertiga malam terakhir? (Eaaa). Percaya deh kalo Allah selalu punya cara yang amazing dalam mengabulkan doa hambaNya. Sweetness overload! :’) Tapi inget, urusan ibadah ya urusan masing-masing. You just don’t have to tell him you’ve done it all. Sesekali ngingetin kebaikan, it’s okay. Dan, jangan lupa: lurusin niat. Jadi baik bukan untuk dia, tapi semata-mata untuk Allah. Don’t expect people. Just don’t.

Kemarin dapet kalimat bagus:
Someone can be madly in love with you and still not be ready. They can love you in a way you have never been loved and still not join you on the bridge. And whatever their reasons you must leave. Because you never ever have to inspire anyone to meet you on the bridge. You never ever have to convince someone to do the work to be ready. There is more extraordinary love, more love that you have never seen, out here in this wide and wild universe. And there is the love that will be ready.” – Nayyirah Waheed

All right, good people. Now your mind was blown, wasn't it? Haha. Kalo boleh dirangkum ya, ujung-ujungnya kembali lagi ke statement: menikah itu tidak hanya menyatukan dua insan (iman dan pola pikir), tapi juga menyatukan dua keluarga (lingkungan terkecil dimana ia berasal). Tidak perlu ada paksaan dalam mempersatukan. Just balanced that way. Don't worry, this is Silmi's version only. :)

“Kamu kan orang baik mi, tenang aja. Pasti bakal dapet pasangan yang baik juga.”
Thanks yul, aku cukup terharu. Haha. :') 


@silminasusra

Thu, February 18, 2016 (3:33 PM)

3 comments:

  1. Mi aku bacanya ngangguk2 terharu #halah good article by the way emang klo udh usia segini yg harus dipikirin emang harus lebih visioner, that's why we have to be better than better peeson every time ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha makasi tipuuulll, aku masi newbie nih dlm dunia per-blog-an. iya bener banget, masa2 begini emg udh sebaiknya mikir masa depan si, udh waktunya jg. btw ditunggu undangannya ya tif haha :p

      Delete
    2. hhahahaha undangan apaan tar ku kasi undangan ulang tahun yaaa :p kamu duluan kayaknya mi aku agak lamaaa dikit hehehe~

      Delete